Ironi di Balik Gemerlapnya Liga Premier

Agustus 15, 2009 at 10:34 am (Olahraga) ()


Ironi di Balik Gemerlapnya Liga Premier

Timnas Inggris

Gelandang Arsenal, Cesc Fabregas (paling depan) bersama rekan-rekan setimnya saat sesi latihan di London Colney, 28 April 2009 jelang leg pertama Liga Champions melawan MU. AFP PHOTO/Glyn Kirk
Cesc Fabregas (© AFP 2009)

Artikel Terkait

Liputan6.com, London: Pada awal Februari 2007, mantan pelatih Timnas Inggris, Graham Taylor, menyatakan keprihatinannya atas wabah para pemain asing di Liga Premier atau premiership. Ketika itu, catatan menunjukkan bahwa 60 persen dari jumlah keseluruhan pemain yang berkecimpung di liga paling bergengsi itu berasal dari non-Inggris. Menurut Taylor ketidakseimbangan jumlah pemain tersebut berkorelasi dengan kegagalan St George Cross di ajang internasional.

Lalu, bagaimana dengan musim 2009-2010? Tak jauh berbeda. Pelatih Fabio Capello harus memutar otaknya dengan keras guna memilih segelintir pemain yang pantas dipanggil masuk dalam skuad. Dari 595 pemain (68 negara) yang teregistrasi bermain di premiership, hanya 248 pemain yang bisa dipanggil Capello ke dalam skuad The Three Lions. Dengan kata lain, langkah pertama Capello adalah mencoret 347 pemain.

Padahal, ketika Liga Premier dimulai pada Agustus 1992 lalu, hanya 12 pemain asing yang tampil dalam starting line-up dalam 11 pertandingan yang diikuti 22 klub. Ironisnya, di awal pekan perdana premiership besok dan lusa (15-16 Agustus), kurang dari 40 pemain asal Inggris yang akan bermain sebagai starter di 10 pertandingan (20 klub).

Yang lebih menyedihkan, hanya segelintir dari jumlah 248 pemain (45 persen) tersebut yang dapat dipanggil atau dipercayai Capello untuk memperkuat timnas. Manchester United, mungkin, jadi satu-satunya klub dari the big four yang mempunyai jumlah pemain lokal dalam jumlah yang besar, 19 pemain. Dari jumlah tersebut, minimal delapan pemain yang masih layak dipanggil Capello. Empat di antaranya merupakan pemain kunci, seperti kiper Ben Foster, bek Rio Ferdinand, gelandang Michael Carrick, dan striker Wayne Rooney.

Liverpool bisa menyumbang sembilan pemain asal Inggris. Tapi, realitanya hanya dua yang masuk dalam radar Don Fabio: Steven Gerrard dan Glen Johnson. Chelsea? Delapan pemain. Tiga di antaranya merupakan tulang punggung skuad Inggris: John Terry, Ashley Cole, dan Frank Lampard. Arsenal? Mengecewakan. Hanya tiga pemain (11 persen) anak didik Arsene Wenger yang bisa mewakili Inggris, seperti Theo Walcott, Jack Wilshere, dan Kieran Gibbs.

Bagaimana dengan tim-tim lainnya? Stoke City boleh bangga dengan jumlah pemain lokalnya yang terbanyak di antara tim-tim medioker, 19 pemain atau 66 persen dari skuad inti Tony Pulis. Yang kedua, West Ham United. Dari 28 anak didik Gianfranco Zola, 17 di antaranya merupakan warga lokal. The Hammers pun terbilang sukses berkontribusi terhadap timnas. Dari skuad Capello saat laga lawan Belanda, Rabu (12/8) lalu, tiga di antaranya adalah pemain West Ham: kiper Robert Green, bek Matthew Upson, dan striker Carlton Cole. (MEG)

2 Komentar

  1. lawliet90 said,

    wah…..
    harus ada peraturan yang lebih ketat tu kayaknya…..😕

    • berbagisemua said,

      iya,, mending liga indonesia… banyak pemain lokalnya… ya gak???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: